Hamasah di Jalan Da'wah

Perjalanan dakwah masih panjang. Salah satu faktor yang membuat kita dapat bertahan dan terus eksis di jalan dakwah adalah adanya hamasah (semangat) dan iradah (kehendak) kuat yang tertanam dalam jiwa kita.

Jama'ah Penuh Berkah

Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar tsiqah antara qiyadah dan jundiyah menjadi penentu bagi sejauh mana kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberhasilan dalam mewujudkan tujuan-tujuannya, dan kemampuannya dalam mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan.

Bekerja Untuk Indonesia

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.

Inilah Jalan Kami

Katakanlah: "Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik". (12:108).

Biduk Kebersamaan

Biduk kebersamaan kita terus berjalan. Dia telah menembus belukar, menaiki tebing, membelah laut. Adakah di antara kita yang tersayat atau terluka ? Sayatan luka, rasa sakit, air mata adalah bagian dari tabiat jalan yang sedang kita lalui. Dan kita tak pernah berhenti menyusurinya, mengikuti arus waktu yang juga tak pernah berhenti.

Senin, 26 Desember 2011

“Isyhadu Bi Anna Muslimun” Bukan Hanya Sebatas Ucapan dalam Pengakuan

Jika kita sering hadir di dalam sebuah majelis ilmu, dalam muqadimah awal yang sering kita dengar di lafadzkan oleh pengisi tausiah adalah “Allah telah memberikan kita sebuah nikmat, dimana nikmat itu tidak diberikan kepada selain Umat Islam yakni nikmat Iman dan nikmat Islam.” Tentu hal tersebut benar adanya. Namun pertanyaan nya adalah, apakah kita memang telah merasakan kenikmatan beriman dan berislam tersebut? Bukankah sesuatu yang bernama nikmat itu tentu dapat dirasakan kenikmatannya?

14 abad yang lalu, Islam hadir di permukaan bumi. Risalah Islam di bawa oleh Rasulullah saw. Islam adalah agama yang sempurna, kesempurnaan Islam tersebut karena Islam hadir dengan memberikan solusi secara menyeluruh akan setiap af’al perbuatan manusia ketika beramal. Baik ketika beramal dalam hal spritual, maupun dalam hal sosial masyarakat, serta dalam hal urusan pribadi yang orang lain tidak ikut campur.

Dalam perkara urusan spritual atau yang disebut sebagai ibadah mahdhah maka Islam memberikan aturan yang jelas tentang bagaimana thariqah yang benar ketika beribadah kepada Nya.

Dalam perkara urusan sosial masyarakat, seperti pergaulan, muamalah, budaya dan lain nya, Islam pun memberikan aturan, dimana hal ini tidak dimilik oleh agama selain Islam.

Dalam perkara urusan pribadi, perkara akhlaq, pakaian, makanan dan minuman Islam pun memiliki aturan.

Pendek kata, Islam memiliki aturan yang sempurna, yang mengatur setiap sendi kehidupan manusia, baik dalam hal hablumminallah, habluminannas, dan habluminafsi.

Islam adalah satu-satunya agama yang mempunyai berbagai dimensi yang dapat menjawab berbagai persoalan asasi ummat manusi sepanjang masa, termasuk masa kini dan masa yang akan datang. Maka dari itu Islam adalah agama yang paling benar dan di ridhoi Allah SWT seperti pada firman-Nya :

"Sesunggunya agama disisi Allah Adalah Islam".(TQS Ali Imran: 19)

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagim” [TQS Al Maidah:3]

Tidak diterima agama selain Islam:

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” [Ali Imran:85]

Itulah kesempurnaan Islam, sebagai satu-satunya agama yang memiliki aturan hidup serta satu-satu nya agama yang di ridhai oleh Allah swt. Hal ini tentulah tidak kita temui di dalam agama di luar Islam.

Namun, dengan kesempurnaan tersebut, apakah kita telah merasakan kenikmatan ketika beriman dan berIslam? Sebagaimana yang sering kali di kutip oleh para ustadz di muqadimah taujihatnya.

Inilah yang seharusnya menjadi sebuah renungan bagi tiap-tiap orang yang mengaku beriman kepadaNya dengan Islam sebagai agamanya.

Jadi pertanyaan yang mendasar adalah, bagaimana tolak ukur seseorang itu bisa dikatakan merasakan nikmatnya beriman dan berislam? Sehingga manisnya Iman dapat dirasakan, yang kemudian berpengaruh pada amal orang tersebut di dunia.

Dalam hal ini, cukuplah sabda dari nabi kita yang mulia Rasulullah Muhammad saw. Beliau bersabda :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ، أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Sabda Rasulullah saw :

“Tiga hal, yang barangsiapa memilikinya ia akan menemukan manisnya Iman, ia menjadikan Allah dan Rasul Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, dan ia tiada mencintai seseorang kecuali karena cintanya pada Allah, dan ia benci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak ingin dilemparkan pada api” (Shahih Bukhari)

Dari hadist di atas, kita bisa melihat ada tiga hal yang harus dikerjakan oleh seseorang, hingga ia bisa merasakab manisnya Iman.

Pertama, Mencintai Allah dan rasulNya melebihi apa yang ia cintai dari keduanya.
ia akan selalu mengutamakan kecintaanya kepada Allah dan RasulNya daripada mementingkan kesenangan dan kemegahan dunia, seperti bersenang-senang dengan keluarga, lebih senang tinggal di rumah ketimbang merespon seruan dakwah dan asyik dengan bisnisnya tanpa ada kontribusi sedikitpun terhadap kegiatan dakwah di jalan Allah swt. Sebagaimana firman Allah dalam surat at Taubah:

“Katakanlah: “Jika bapa-bapak, anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” [TQS At Taubah : 24]

bila seseorang senantiasa mengutamakan kecintaan kepada Allah, Rasul dan jihad di jalan-Nya, daripada kepentingan dirinya sendiri, maka akan lahirlah sikap ridha terhadap Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai din-nya dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasulnya. Keridhaannya itu dibuktikan dengan selalu menghadiri halaqahnya, terlibat dengan kegiatan dakwah di lingkungannya dan menginfakkan sebagian harta dan waktunya untuk kemaslahatan tegaknya agama Allah swt.

Apa yang dirasakan oleh seseorang bila ia telah ridha terhadap Allah, agama dan Rasulnya?
Pertama, Ia akan merasakan “Istildzadz at-Thaa’ah”, lezatnya ketaatan kepada Allah swt., baik dalam shalatnya, tilawah Qur’annya, pakaian dan pergaulan islaminya, perkumpulannya dengan orang-orang shaleh dan keterlibatannya dalam barisan dakwah.

Kedua, Ia juga akan merasakan “Istildzadz al-masyaqat”, lezatnya menghadapi berbagai kesulitan dan kesusahan dalam berdakwah. Kelelahan, keletihan, dan hal-hal yang menyakiti perasaannya akibat celaan orang karena menjalankan syariat Islam, atau bahkan mencederai fisiknya, semua itu semakin membuatnya nikmat dalam berdakwah. Semua inilah yang akan senantiasa melahirkan manisnya Iman.

Ketiga, mencintai seseorang karena Allah, bukan sebab yang lain.

Imam an Nawawi seorang ‘ulama dari Madzhab Iman syafe’I pernah berkata

“Aku mencintaimu karena agama yang ada pada dirimu.....
Jika kau hilangkan agama dalam dirimu.....
Hilanglah cintaku padamu”

Tentu apa yang beliau ucapkan tersebut merupakan sesuatu yang menunjukan bahwa sebagai seorang yang mengaku beriman kepada Allah dan RasulNya, maka baik apa yang dia cintai dan apa yang dia benci, bermuara kepada standar keridhaan dan kebencian oleh Allah swt dan rasulNya. Bukan karena sebab nafsu syahwat yang lebih condong kepada kesenangan dunia semata.

Dia mencintai pasangan dia baik sebagai suami ataupun isteri murni karena agama yang dia lihat pada pasangannya tersebut, bukan faktor yang lain, baik harta, bentuk fisik ataupun nashabnya.

Rasulullah saw bersabda :

“Perempuan dinikahi karena empat faktor. Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka menangkanlah wanita yang mempunyai agama, engkau akan beruntung.” [Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, al-Nasa’i, Abu Dawud Ibn Majah Ahmad ibn Hanbal, dan al-Darimi dalam kitabnya dari sahabat Abu Hurairah ra].

Dalam hal memilih seorang untuk menjadi teman pun ia akan memilih karena agama yang ada pada diri orang tersebut.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu akan mengikuti agama temannya, karenanya hendaklah salah seorang diantara kalian mencermati kepada siapa ia berteman.”

[Hadits hasan, riwayat Tirmidzi (no. 2387), Ahmad (no. 8212), dan Abu Dawud (no. 4833), Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan gharib]

Seorang muslim/muslimah haruslah yang dipupuk dengan keimanan dan dididik dengan pola interaksi Islami. Maka pandangan Islam dalam memilih teman adalah barometernya, karena dirinya sadar, teman yang baik (shalih/shalihah) memiliki pengaruh besar dalam menjaga keistiqomahan agamanya. Selain itu teman shalih/shalihah adalah sebenar-benar teman yang akan membawa mashlahat dan manfaat.

Maka dalam pergaulannya dia akan memilih teman yang baik dan shalih/shalihah, yang benar-benar memberikan kecintaan yang tulus, selalu memberi nasihat, tidak curang dan menunjukan kebaikan. Karena bergaul dengan orang-orang shalih/shalihah akan menjadikannya sebagai teman yang selalu mendatangkan manfaat dan pahala yang besar, juga akan membuka hati untuk menerima kebenaran. Maka kebanyakan teman akan jadi teladan bagi temannya yang lain dalam akhlak dan tingkah laku. Seperti ungkapan:

“Janganlah kau tanyakan seseorang pada orangnya, tapi tanyakan pada temannya. karena setiap orang mengikuti temannya”.

Bertolak dari sinilah maka seorang muslim/muslimah senantiasa dituntut untuk dapat memilih teman, juga lingkungan pergaulan yang tak akan menambah dirinya melainkan ketakwaan dan keluhuran jiwa. Sesungguhnya Rasulullah juga telah menganjurkan untuk memilih teman yang baik (shalih/shalihah) dan berhati-hati dari teman yang jelek. Hal ini telah dimisalkan oleh Rasulullah melalui ungkapannya:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

“Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik (shalih/shalihah) dan teman yang jahat adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya itu atau engkau menibeli darinya atau engkau hanya akan mencium aroma harumnya itu. Sedangkan peniup api tukang besi mungkin akan membakar bajumu atau engkau akan mencium darinya bau yang tidak sedap”.(Riwayat Bukhari, kitab Buyuu’, Fathul Bari 4/323 dan Muslim kitab Albir 4/2026)

Keempat, benci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak ingin dilemparkan pada api.

Dalam kehidupan di dunia ini, seseorang terkadang melakukan sesuatu yang itu melanggar ketentuan syariah, tentu ada yang di lakukan secara sengaja dan terang-terangan ataupun secara sembunyi, namun ada juga yang dilakukan karena khilaf ataupun keterpaksaan.
Ada nasehat yang paling baik bagi seseorang, tatkala orang tersebut meminta untuk diberikan sebuah nasehat. Yaitu kematian. Kematian adalah nasehat terbaik. Sedikit saja kita lengah dari pemikiran kematian,maka kita kehilangan guru terbaik dalam hidup.

Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah 2/419 berkata : hadits hasan)

Di kehidupan dunia ini, kenikmatan dan kelezatan dunia sungguh bisa memalingkan manusia dari tujuan hidup sebenarnya. Oleh karenanya, dengan sering-sering mengingat akan mati, maka ia akan bisa terus melakukan introspeksi dirinya, sehingga tidak terus larut pada kelezatan yang fana ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu beliau berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan’, yaitu kematian. (HR. At Tirmidzi, Syaikh Al Albaniy dalam Shahih An Nasa’iy 2/393 berkata : “hadits hasan shahih”)

Oleh karena itu, Isyhadu Bi Anna Muslimun” bukan hanya sebatas ucapan dalam pengakuan.namun juga terlihat dari setiap aktivitasnya. Dan tentu harus sama-sama merasakan di dalam diri masing-masing, apakah nikmat Iman dan nikmat Islam serta kelezatan kenikmatannya tersebut sudah ataukah belum sama sekali kita rasakan. Karena sekali lagi kalimat “Isyhadu Bi Anna Muslimun” bukan hanya sebatas ucapan dalam pengakuan.

Wallahu A’lam bis showab.

Penulis: Adi Victoria, Aktivis Pejuang Khilafah
Al_ikhwan1924@yahoo.com

Sabtu, 16 Juli 2011

training motivasi Akper Purworejo

achievement motivation training Akper Purworejo 

untuk meningkatkan kecerdasan mahasiswa di bidang  emosional dan spiritual, kerohanian Islam Akper Kabupaten Purworejo menyelenggarakan kegiatan training dengan tema :hearth intelegent: dukungan psikologi dan spiritual bagi pasien". acara ini menghadirkan pembicara dari dosen Akper sendiri bpk. Mugihartadi dan motivator Islam bpk Mujiburahman yang juga Kepala Sekolah MTS Al- Islam jono.

menurut Bpk. Mgihartadi ,salah satu hal yang sering dilupakan atau bahkan kurang mendapat perhatian dari perawat dan calon perawat adalah aspek spiritual, padahal aspek ini temasuk dalam prinsip keperawatan yang holistik, 

marhaban yaa Ramadhan

Persiapan Menyambut Ramadhan Secara Maksimal

Taushiyah  Ramadhan

Bulan Ramadhan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para dai dan ulama untuk melakukan dakwah dan tarbiyah. Terus melakukan gerakan reformasi (harakatul ishlah). Membuka pintu-pintu hidayah dan menebar kasih sayang bagi sesama. Meningkatkan kepekaan untuk menolak kezhaliman dan kemaksiatan. Menyebarkan syiar Islam dan meramaikan masjid dengan aktifitas taklim, kajian kitab, diskusi, ceramah dll, sampai terwujud perubahan-perubahan yang esensial dan positif dalam berbagai bidang kehidupan. Ramadhan bukan bulan istirahat yang menyebabkan mesin-mesin kebaikan berhenti bekerja, tetapi momentum tahunan terbesar untuk segala jenis kebaikan, sehingga kebaikan itulah yang dominan atas keburukan. Dan dominasi kebaikan bukan hanya dibulan Ramadhan, tetapi juga diluar Ramadhan.

Ramadhan adalah bulan penuh berkah, penuh berkah dari semua sisi kebaikan. Oleh karena itu, umat Islam harus mengambil keberkahan Ramadhan dari semua aktifitas positif dan dapat memajukan Islam dan umat Islam. Termasuk dari sisi ekonomi, sosial, budaya dan pemberdayaan umat. Namun demikian semua aktifitas yang positif itu tidak sampai mengganggu kekhusu’an ibadah ramadhan terutama di 10 terakhir bulan Ramadhan. Rasulullah shalallahu â€کalaihi wa sallam menjadikan bulan puasa sebagai bulan penuh amaliyah dan aktivitas positif. Selain yang telah tergambar seperti tersebut di muka, beliau juga aktif melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan. Rasulullah saw. menikahkan putrinya (Fathimah) dengan Ali RA, menikahi Hafsah dan Zainab.

pengurus baru Rohis Akper

bismillahhirrahmanirrahim...


berdasarkan musyawarah besar, ditetapkan pengurus Rohis terpilih periode 2011/2012 yaitu:
ketua : Yoga Prihartanto
sekretaris : ade novia F.
bendahara : Istiyarini
bidang pengembangan akhlaq : ferika dyah P, niken safitri
bidang humas : ria susanti, ririn pangestuti
bidang media: nur jufri , erni melati, aprilia kartika dewi, linda aprilia

adalah abdulloh bin rowahah ra. , seorang sahabat yang ketika diangkat oleh Rasulullah SAW menduduki sebuah jabatan panglima dalam perang mu'tah. ia menerimanya dengan tangis dan cucuran air mata. lalu para sahabat lain bertanya: apa gerangan yang membuat engkau menangis ya abdullah? iapun menjawab : tidak ada pada diriku cinta dunia dan keinginan untuk dielu- elukan pleh kalian., akan tetapi aku hanya terngat ketika Rasulullah mengingatkan ku dengan firman Allah SWT :
" dan tidaklah dari kalian melainkan akan mendatanginya (neraka jahanam) adalah yang demikian itu bagi Tuhanmu (ya! Muhammad) merupakan ketentuan yang telah ditetapkan" QS. Maryam : 71

dari ungkapan Abdullah bin Ruwahah tersebut di atas dapat disipulkan bahwa beliau mentadabburkan ayal Al -Qur'an beigitu dalam, sehingga beliau mengaitkan ayat tersebut dengan amanah jabatanyang baru saja dipangkunya. apakah jabatannya kelak akan dapat menyelamatkannya metika masing -masing orang mau tidak mau harus melewati  " shirothol mustaqim" , karena menghadapi neraka jahanam dengan melewatinya adalah ketentuan yang telah ditetapkan, tidak ada jalan alternatif lain dan tidak bisa ditawar - tawar lagi.


semoga Allah senantiasa memberikan rahmat- Nya kepada pegurus terpilih agar dapat menjalankan amanah dengan sebaik- baik nya. amin..

tetap semangat !!!!

akper kabupaten purworejo

Akper kabupaten Purworejo adalah satu satu akademi keperawatan di purworejo. Akper  Purworejo di bawah naungan Yayasan Manggala Praja Adi Purwa.

Visi akper Purworejo
1. Akper pemkab pwr yg menghasilkan lulusan yg beriman, bertaqwa dan berbudi luhur.
2. Mampu menguasai dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi utk brperan serta dlm pembangunan

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites